Dari suatu tempat yang terletak di pulau tetangga bergema sebuah sidang. Walau jauh kami di sini, tetaplah peduli kami dengan apa yang terjadi yang tidak ada hubungannya dengan pemilihan gubernur. Apalagi tentang masalah SARA. Kami sudah belajar penuh tentang keperbedaan. Kami pun menerima semua itu. Namun sebuah gesekan yang dilontarkan ketika itu membuat kami mengaum. Wajar jika ada diantara kami yang sangat keras aumannya. Sontak ketika kami mengaum, tuduhan anti-agama, anti-etnis, anti-suku, maupun anti lain-lainnya ditujukan kepada kami. Sebenarnya siapa yang tidak menerima perbedaan? Ketika ada seorang yang menista agama, apakah itu dapat disebut menghargai perbedaan? Dan ketika ada orang yang memperjuangkan perbedaan dengan membela agama yang dinista, apakah itu yang disebut anti-perbedaan?