Posts

Showing posts with the label Puisi/Essai

Pulang

Image
pulang [kata ibu]. manusia selalu rindu untuk melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya, belum didengar, dan belum dipahaminya. ia akan terus mencarinya siang & malam. begitulah kata Rumi dalam Fihi Ma Fihi. puncak tertinggi dari sebuah rasa yang diciptakan oleh Tuhan adalah kerinduan [sementara, 25 tahun]. rindu merupakan puitis yang tidak dapat dicampur dengan kebencian. saat seorang sedang rindu yang diingat ialah kenangan baik. tidak mungkin ia mengenang hal yang tidak baik, cenderung berakibat traumatik. inilah yang membedakan rindu dengan cinta. dalam cinta masih ada benci, caci maki, dan pemaksaan.

Satu Hari Menjelang

Image
Satu hari menjelang pemilu, sudah semestinya kita berkaca pada proses pertarungan pemilu tahun 2019. Masyarakat dibenturkan dengan pengkotakan kubu serta pembentukan narasi cebong vs kampret. Kita sibuk bacakut , buta akan agenda "orang-orang tak terlihat" yang hanya menguntungkan segelintir golongan. Bahkan, tidak disangka lawan dari presiden terpilih pada pemilu menerima tawaran jabatan menteri dan meninggalkan gerbang oposisi. 

Gigi Busuk oleh Kahlil Gibran

Image
Aku memiliki sebuah gigi busuk dalam mulutku. Gigi yang menyusahkan ku. Selama siang hari gigi itu terlelap, tenang. Akan tetapi dalam ketenangan malam, ketika dokter gigi tidur dan too obat tutup, rasa sakit itu pun muncul.

Kota di Lereng Embun

Image
Ali Syamsudin Arsi PUISI DAN KOTA SALING BERBAGI   selayaknya   alam seimbang pada tataran garis lintang dari catatan sejarah paling jauh di belakang tahun demi tahun berjalan dengan mengatas-namakan kesederhanaan meningkat pada kebercukupan naik lagi pada keberlebihan tak mampu menahan naik lagi pada keserakahan melalui jalan keculasan dengan berbagai alasan   “Aturan yang kita buat adalah untuk kemakmuran kelompok kita, maka yang lain di luar kita adalah penonton yang tak bisa berbuat apa-apa karena pada waktu ini kitalah yang sedang berkuasa,” semilir angin tak sejuk menerpa sampai ke pojok lapangan dan podium berubah menjadi kereta kuda kencana berselimut emas cerlang cahaya diterpa sinar matahari dengan gemuruh sorak-sorai pendukung di sekitar tampuk hidangan meja makan dan piring garpu sendok serta kain penyapu bibir empuk mewah merekah   ibu-ibu melempar senyum tak putus ke mana-mana, “Lihatlah kepadaku, aku telah menjadi yang termegah di ant...

Hujan di Al-Mursyidul Amin

Image
  Mentari tersipu malu menyapa hamparan sawah dan juga rerumputan. Langit berselimut mendung tak ingin berganti pakaian tatkala selayang pandang gedung-gedung Banjarmasin berubah menjadi gubuk-gubuk kayu pada jalan yang namanya dinisbatkan kepada gubernur Kalimantan Selatan dimasa lampau.

Memandang Madang

Image
  Memandang Madang   Sebelum bertempur terucap zikir yang menyatu syahdu pada alam mengadu.

Dicari: Mahasiswa

Image
  Dicari: Mahasiswa   Konsolidasi pada petang itu membuat mawar menjadi mekar duri-duri yang lekat siap menusuk kepada siapapun yang ingkar juga wewangian semerbak menghujam pada setiap raga yang siap berjuang turun ke jalan.

Di Gang Kubah Kandangan

Image
DI GANG KUBAH KANDANGAN   Sesungguhnya kehidupan memenjara dirimu ditawan oleh kematian yang siap menjemput. Katakanlah kepada mereka yang datang ke kubur ini apa yang telah engkau persiapkan ketika ruh tak bersemayam di tubuh. 

Subuh Di Banua Halat

Image
SUBUH DI BANUA HALAT Ku Cari Kau di Seribu Kota   Selagi menunggu pukul 10.00 pagi ia meneruskan bacaan novelnya. Tidak seperti biasanya ia membeli sebuah novel untuk menjadi bahan bacaan. Biasanya buku yang ia beli berhubungan dengan dunia sufistik tapi kali ini bacaannya berbeda. Mungkin karena kerinduannya terhadap seseorang di desa itu. Sebuah desa yang tidak tahu persis dimana tempatnya. Sebab ketidaktahuan itulah maka ia putuskan menyematkan alamatnya di hati seseorang itu, bukan di desanya lagi. Karena sejatinya yang ia cari ialah seseorang itu bukan desanya.

Awal Mula

Image
AWAL MULA Ku Cari Kau di Seribu Kota   Seperti biasa pada hari kelima dalam kalender satu minggu ia bersiap untuk beribadah. Ia mulai mencari-cari tempat ibadah yang akan ia datangi. Sebelum itu ia sudah berikrar bahwa akan beribadah di tempat yang berbeda pada setiap minggunya. Lantas ia pergi dari satu komplek ke komplek lainnya. Dari satu desa ke desa lainnya. Juga dari satu kota ke kota lainnya. Entah apa yang ia cari yang pasti setiap kota maupun desa terdapat bunga-bunga indah yang dapat ia kenang ketika sepi menyapa.

Mudik Para Datu

Image
Dua dari lima bersaudara cucu Datu Kalampayan memutuskan untuk pergi ke Kandangan. Sementara itu, tiga saudara lainnya masing-masing pergi ke Tenggarog, Sampit, dan Pagatan. Datu Ahmad dan Datu Sa’duddin berkhidmat kepada penduduk sekitar hingga akhir hayat beliau. Di Kandangan, Datu Ahmad memilih ke daerah Balimau dan Datu Sa’duddin pergi ke daerah Taniran.

Duapuluh Hari di Bulan Mei

Image
Sementara itu Kamu hanyalah kata lain dari aku Kita satu

Impian Jelata

Image
IMPIAN JELATA   Impian kita menguap di ujung senja Dan mengetuk pintu-pintu langit Dua pemuda sedang berbincang di pinggiran jalan

Bergembiralah Kekasih Datang

Image
BERGEMBIRALAH KEKASIH DATANG   Wahai jiwaku Kabarkan kepada raga bahwa akan hadir seorang kekasih yang ditunggu Sampaikan kepada setiap relung di hati bersiaplah menyambut sesuatu Yang gejolaknya tidak akan pernah bisa disamakan dengan seisi bumi yang bersendu Bahkan riuhnya ombak samudera akan hilang ketika terdengar suara kekasih di telingamu

Berita Duka Itu Sampai Kepada Kita

Image
BERITA DUKA ITU SAMPAI KEPADA KITA Hening yang dibungkam berubah Menjadi sayup angin yang berkisah Angin membawa berita dari wajah yang basah Sebab air mata berlinang duka yang resah

Pesona Rindu

Image
PESONA RINDU Lembar cinta… Sebab cinta rela pergi pagi sekali Hanya untuk melihat mentari terbit

Makhluk Sejoli

Image
Sungguh mudah manusia memberi cinta. Namun sulit memendamnya.

Derai Embun di Tengah Kota

Image
DERAI EMBUN DI TENGAH KOTA Kota ketika sore… Jauh sebelum taman bunga itu dibangun Ia sudah menunggu di sana Melihat melati tumbuh untuk pertama kalinya

Romansa Kalimantan

Image
ROMANSA KALIMANTAN Intingan wan Dayuhan… Jauh dari ramainya lalu lalang perahu dari penjuru dunia Yang melintas di Sungai Barito masuk ke anak sungai Para ombak berbisik kisah kepadanya

Malam di Banjarbaru

Image
Nama Amandit sering disebut dalam senyapnya malam yang penuh aroma rindu.